SEX EDUCATION PADA ANAK 1 TAHUN

IMG_2981Membaca judul artikel ini, mungkin sebagian besar mommies merasa heran, karena anak 1 tahun terbilang sangat muda untuk di kenalkan pada hal yang tabu di Indonesia seperti sex. Tapi saya mau meluruskan satu hal sebelum melanjutkan tulisan ini, bahwa yang menjadi tabu di masyarakat kita bukanlah sex nya moms, tapi tindakan seksual yang tidak senonoh. Akibat pola pikir yang salah kaprah inilah, banyak orang tua yang kemudian enggan memperkenalkan dunia sex pada anak.

Padahal sesungguhnya sex merupakan bagian dari tubuh anak itu sendiri. Sex bukan hanya menyangkut soal perilaku seksual namun juga jenis kelamin dan apa peran yang harus diketahui anak dari jenis kelamin yang dimilikinya. Ini yang kemudian akan memisahkan konsep pria dan wanita pada anak dan mencegah anak menjurus kepada kebingungan seksual.

  • Kenalkan jenis kelamin mereka saat mereka ingin tahu
    Ini yang saya lakukan pada Eegan untuk awal pengenalan dunia sex. Sesungguhnya ini dimulai dari Eegan sendiri yang sedang berada pada fase ingin tahu. Sehingga setiap kali saya menggantikan popoknya, Eegan seringkali memegang alat vitalnya dan bertanya “apa?”. Yang saya lakukan adalah menjelaskan secukupnya secara biologis. Saya hanya menjawab dengan bahasa kami, “That’s penis, your vital organ. But don’t touch it because it’s dirty terkena pipis.”. (Karena abis memegang, tangannya suka iseng masuk mulut atau pegang muka).

    Jadi alih-alih melarangnya untuk mengetahui apa itu atau malah membuat alat vitalnya sendiri terkesan sebagai sesuatu yang sangat tabu dan terlarang, saya memilih menjelaskannya secara biologis. Sama halnya ketika saya menjelaskan organ tubuh lain seperti mata, tangan, kepala, kaki, hidung, dll. Ketika mereka mengerti hal ini sebagai sebuah organ tubuh, maka mereka otomatis akan memperlakukannya selayaknya organ tubuh. Ketika mereka dididik ini adalah hal yang sangat tabu, maka mereka juga akan menganggap hal itu tabu dan takut akan hal tersebut.

 

  • Didik anak untuk berperilaku dan memilih sesuai dengan jenis kelaminnya
    Walaupun ini terkesan diskriminasi, namun saya memilih untuk menetapkan standard perilaku pria dan wanita. Misal, dalam pemilihan baju, walaupun sejatinya warna pink itu universal, namun saya tetap mengelompokkan itu di kelompok feminim dan memilih warna maskulin untuk eegan sampai nanti dia mengerti konsep pria dan wanita. Jadi dari awal saat dia belum mengerti bedanya, saya mau tegaskan agar eegan tidak berada di area abu-abu, kanan kiri oke. Sama dengan pemilihan mainan, kami lebih banyak memberikan mainan maskulin seperti mobil, robot, sensory play dibanding boneka dan peralatan make up.

 

 

  • Mulai edukasi anak akan pentingnya menjaga organ vitalnya dari orang lain secara sederhana
    Hal ini tentu sudah menjadi keharusan di era jaman sekarang ini ya moms, dimana tindakan kriminal seksual telah meraja lela dan anak kecil tak jarang menjadi korbannya bahkan oleh kerabat, teman bahkan orang tua sendiri. Ketika Eegan menanyakan alat vitalnya dan saya jawab dengan penjelasan singkat biologisnya, saya juga tak lupa menambahkan 1 kalimat sederhana, “but don’t let anyone touch it without mami’s permission, okay! Because there are people who would like to hurt you with it.”
    Walaupun saya tahu Eegan belum mengerti maknanya, tapi saya yakin someday karena sering diberitahukan, itu akan menjadi pengingat yang kuat di benaknya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s