[IND] Saya Mengampuni Ayah Saya dan Itu Keputusan Terbaik Yang Pernah Saya Ambil

05-forgiveness-different-kinds-of-forgiveness[IND] Setiap kali saya mendengar seseorang bercerita mengenai kebenciannya terhadap orang tuanya, saya tiba-tiba akan teringat dengan orang tua saya. (Baca pengalaman mereka lainnya di post : Everything Starts From Inside The Blanket). Dia adalah seorang ayah yang penyayang untuk saya. Dia tak pernah memukul atau menganiaya saya. Namun sayang, menjadi seorang ayah yang penyayang tidak membuatnya seorang suami yang penyayang bagi Mama.

Luka yang di sebabkan pada Mama dapat terlihat melalui luka pada tubuhnya. Papa tak pernah memukul saya – namun seringkali dia memukul dan menganiaya Mama. Sebagai seorang anak kecil yang melihat Mamanya di aniaya secara fisik maupun verbal membuat saya terluka dan tersakiti. Saya melihat dia sebagai seorang monster. Setiap kali dia memukul Mama – yang dapat saya lakukan hanyalah menangis dan bersembunyi di balik selimut saya dengan perasaan takut. Saya bahkan ingat ketika saya duduk dalam diam sambil mendengarkan detak jantung saya sendiri. Melempar barang ketika Papa meledak sudah menjadi hal yang biasa dia lakukan. Saya ingat saat Mama menggendong saya di tangannya ketika mereka bertengkar dan Papa melempar barang-barang dirumah sambil berteriak padanya. Saya hanya menangis dan memohonnya untuk berhenti. Saya ketakutan. Sampai hari ini, saya merasa was-was ketika mendengar suara-suara keras dan pertengkaran.

Mengingat momen-momen ini bahkan membuat saya ingin meneteskan air mata, sepertinya saya melihat seorang gadis kecil yang malang yang berteriak ketakutan namun tak dihiraukan. Papa adalah orang yang tampan dan populer di antara orang kota dan ini membuat banyak sekali wanita yang rela tidur dengannya. Banyak dari mereka adalah gadis single, gadis janda bahkan istri beberapa orang. Saya mulai tak menghitung jumlahnya setelah beberapa waktu. Terlalu banyak yang diketahui namun juga masih banyak lagi yang tersembunyi. Bahkan beberapa dari wanita itu saya kenal – namun entah kenapa saya selalu hanya diam akan hal ini. Apakah karena ketakutan saya atau ketidakpedulian – saya juga tidak tahu. Sampai pada akhirnya Mama menyerah dan memutuskan untuk berpisah saat saya berusia 11 tahun.

Papa mencoba untuk memperbaiki semuanya tentu – namun saya menangis menyuruhnya untuk jangan kembali padanya. Inilah momen dimana saya menyadari bahwa saya membencinya.

Apakah ini yang seharusnya saya rasakan? Tidak. Sama sekali tidak.

Semua orang – saya rasa akan memaklumi saya yang membencinya. Saya rasa semua pembaca akan mendukung keputusan saya untuk jangan pernah menghubunginya lagi dan bahkan membalas dendam. Saya pernah berada dalam kebencian maupun pengampunan – dan ijinkan saya berkata : kebebasanmu tidak terletak pada pembalasan dendam, tapi pada pengampunan. Ijinkan saya memperlihatkan apa yang di sebabkan kedua keputusan ini dalam hidup saya :

Kebencian, Kemarahan, Pembalasan Dendam

Tidak lama setelah perceraian itu, kami pun pindah ke kota lain berjauhan dengannya. Selama 7 tahun sejak perpindahan kami, tak sekalipun saya ingin bertemu bahkan menguhubunginya, walaupun dia mencoba menghubungi saya. Saya begitu dipenuhi oleh kebencian. Saya tak mampu mengampuni apa yang telah dilakukannya. Namun jika dipikirkan sekarang, yang saya kira “hidup tanpa Papa’ adalah kebebasan ternyata bukanlah kebebasan sama sekali — sesungguhnya saya hanya berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya.

Saya berkutat dalam kebencian dan kemarahan selama 7 tahun. Dan itu menyiksa. Yang saya pikirkan setiap hari adalah bagaimana beberapa tahun kedepan saya akan membalas dendam padanya dan istri baru yang ‘jahat’ (sang istri baru yang berkali-kali menyakiti Mama dan saya). Saya bahkan berfikiran untuk membunuh dan membakarnya, sungguh. Saya menghabiskan begitu banyak waktu memikirkan penderitaan mereka. Tahukah apa yang dibawa oleh 7 tahun penuh kebencian ini pada saya?

  1. Saya menjadi seseorang yang tidak pernah percaya pada pria. Saya menjadi seorang yang over protektif.
  2. Pikiran saya dipenuhi dengan layar-layar penderitaan mereka. Dan itu terasa seperti sinteron yang harus saya tonton setiap hari. Kebencian ini mulai merasuki saya dan mengambil sukacita saya.
  3. Saya memaknai dan mengekpresikan kasih dan sex dalam cara yang salah.
  4. Saya tidak percaya pada pernikahan yang bahagia.
  5. Saya menjadi orang yang cepat dan gampang marah. Saya dipenuhi oleh amarah dan gampang meledak persis seperti ayah saya. Karena tidak ada sukacita dalam diri saya — berkutat dengan kebencian akan membuatmu menjadi seseorang yang dipenuhi dengan amarah.
  6. Saya tidak menikmati hidup saya. Hidup saya terasa hancur dan tidak ada harapan
  7. Saya mengalami depresi. Saya membenci diri saya. Saya tidak percaya diri. Saya bahkan benci tampilan diri saya dalam cermin.

Pengampunan

Setelah 7 tahun hidup dalam “neraka” (bahkan tanpa ayah saya), Tuhan menangkap saya dalam kasihNya. Ketika saya menjadi orang percaya – Dia menyentuh hati saya. Merasakan kasihNya membuat saya mampu untuk mengampuni dan mengasihi Papa. Akhirnya saya menghubunginya dan bertemu dengannya. Saya pulang ke kampung halaman saya dan kami bertemu untuk makan siang bersama beberapa kali. Dia masih hidup bersama keluarga barunya. Saya melepaskan kebencian saya dan memutuskan untuk hidup dalam sukacita dan damai sejahtera. Saya memutuskan untuk berhenti menghabiskan waktu saya menghancurkan masa kini dan mencegah diri saya untuk menghancurkan masa depan saya dengan mengampuninya. Tuhan memulihkan saya.

  1. Saya tak lagi berkutat dalam pikiran negatif yang dipenuhi dengan kebencian. Akhirnya saya merasakan yang disebut kebebasan. Seperti sebuah batu berat dan besar di angkat dari atas bahu saya.
  2. Saya dapat merasakan damai sejahtera dalam hati saya dan itu adalah perasaan terbaik yang saya rasakan.
  3. Saya tak lagi peduli dengan bagaimana membuat mereka menderita, yang saya pedulikan adalah bagaimana untuk hidup dalam sukacita dan bahagia. (fokus saya berubah)
  4. Saya bersyukur atas diri saya sebagaimana adanya. I love being me!
  5. Saya diubahkan. Saya bukan lagi seseorang yang tidak percaya diri. Hari ini saya memiliki kepercayaan diri dalam apa yang saya katakan, lakukan dan pikirkan.
  6. Saya bukan lagi seseorang yang over protektif! Saya dapat mempercayai pasangan saya – terlebih karena saya percaya bahwa Tuhan ada dipihak saya.
  7. Saya percaya pada kasih / cinta. Saya percaya pada harapan. Saya percaya pada kedamaian. Saya percaya bahwa Tuhan menciptakan hidup kita untuk berada dalam damai sejahtera. Dan hidup yang penuh syukur itu sungguh ada!
  8. Saya menikmati hidup saya hari ini. Saya melihat hidup saya sebagai hidup yang penuh dengan ucapan syukur dan saya bersyukur atas masa lalu saya karena masa lalu itulah yang menjadikan saya seperti saya hari ini.

Jadi, pilihlah pengampunan. Tidak mudah – saya tahu betapa beratnya mengampuni. Saya tahu bahkan banyak pengalaman lain yang jauh lebih menakutkan dari saya. Beberapa dari mereka diperkosa, di aniaya bahkan dijual oleh orang tuanya. Tapi, bukan masa lalu yang harus menjadi fokus kita. Hidupmu hari ini dan kedepan lah yang harus menjadi fokusmu. Terlalu lama kita menghabiskan waktu untuk menghancurkan hidup kita hanya karena apa yang tak bisa diubah di belakang. Menahan kebencian ibarat menahan masa depan. Jangan hancurkan apa yang belum hancur di depan hanya karena apa yang telah lewat di belakang. Terlalu sayang membuang 5 apel baru hanya karena ada 1 apel busuk di dalam sebuah plastik yang sama.

Hari ini saya telah menikah dan keluarga saya penuh dengan sukacita. Saya hidup dengan penuh ucapan syukur setelah saya memutuskan untuk mengampuni seseorang yang menyakiti hati saya. Papa telah meninggal dan saya bersyukur bahwa saya ada disampingnya di hari terakhirnya dan sempat mengatakan bahwa saya mengampuninya dan mengasihinya. Saya bahkan memutuskan untuk mengampuni istri dan anaknya. Saya ingat saya sempat berterima kasih pada istrinya, bukan karena apa yang telah dia lakukan pada saya dan Mama tapi karena telah menjaga Papa.

Rasakan kasih Yesus dalam hidupmu. Dari segala hal buruk yang terjadi, hitunglah hal-hal baik yang telah Dia berikan. Bukan salah Tuhan apalagi pekerjaanNya seluruh hal buruk itu terjadi — itu adalah akibat pilihan dan kebodohan kita, manusia. Justru Dia adalah pribadi yang selalu ingin memulihkan dan menolong kita dari segala luka yang kita derita. Yang perlu kita lakukan hanyalah memutuskan. Ketika kita telah memutuskan untuk mengampuni — Dia akan memegang tangan kita melewati segalanya sampai kita secara penu mengampuni mereka yang menyakiti kita dan sampai tidak ada bekas yang tertinggal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s